Kendala Dari Pembelajaran Daring

 


Banyak sekali problematika yang dialami proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) saat ini, sehingga bisa menimbulkan konsekuensi yang luas.

Belajar secara daring (online) mensyaratkan sarana dan prasarana yang memadai, baik bagi para guru maupun murid, namun kenyataannya tidak semua siswa memiliki akses yang memadai.

Kondisi tersebut sangat terasa saat ini. Banyak warga masyarakat, khususnya dari warga kurang mampu, mengalami kesulitan menyediakan sarana dan prasarana tersebut bagi anak-anak mereka. 

Selain itu, banyak daerah terpencil yang tidak terjangkau jaringan internet sehingga menyulitkan anak-anak belajar. Bukan hanya para murid, melainkan juga banyak guru di daerah terpencil merasakan kendala yang sama.

PJJ di era pandemi COVID-19 ini ternyata mengungkap disparitas pendidikan secara nyata antara anak dari keluarga mampu dengan anak dari keluarga miskin. 

Kebutuhan akan digitalisasi berhadapan dengan kenyataan lebarnya ketidaksetaraan ekonomi dan sosial di kalangan keluarga-keluarga siswa, kesenjangan itu berimplikasi pada perbedaan tajam dalam akses terhadap teknologi komunikasi dan informasi.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima 213 pengaduan terkait pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari para siswa di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu keluhan pembelajaran daring datang dari anak-anak dari keluarga yang kurang mampu.

Kemudian, seorang guru di Yogyakarta juga menceritakan bahwa pembelajaran daring dengan para siswa hanya bisa dilakukan pada minggu pertama belajar di rumah. Setelah itu sudah tidak bisa lagi karena orang tua peserta didik tidak sanggup lagi membeli kuota internet.

Selain itu, banyak di antara siswa yang tidak memiliki laptop atau komputer PC. Sebagian siswa dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi merasa kesulitan dengan persiapan ujian daring yang akan dilaksanakan akhir April-Mei 2020.

KPAI juga menemukan PJJ membuat siswa kelelahan, kurang istirahat dan stres. Sebanyak 77,8% mengalami kesulitan karena tugas menumpuk karena seluruh guru memberikan tugas dengan waktu yang sempit. 

Sekitar 37% mengeluhkan waktu pengerjaan tugas yang sempit sehingga membuat siswa kurang istirahat dan kelelahan. Kesulitan lainnya adalah sebanyak 42,2% pelajar juga tidak memiliki kuota internet, dan 15,6% responden tidak memiliki peralatan yang memadai seperti laptop atau ponsel untuk belajar daring.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini